Kantor Berita Internasional Ahlulbait —ABNA— Dalam beberapa bulan terakhir kawasan Timur Tengah dilanda perkembangan besar menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran dan Lebanon. Namun, perkembangan di Suriah dinilai kurang mendapat perhatian media akibat ketatnya pembatasan informasi dan tekanan keamanan yang diberlakukan pemerintahan yang dipimpin Ahmed al-Sharaa atau al-Jolani.
Menurut laporan tersebut, pihak-pihak yang disebut sebagai “poros kejahatan” berupaya mendefinisikan kembali peran Suriah setelah serangan besar terhadap Lebanon, termasuk dengan membuka kemungkinan munculnya konflik baru di jalur Suriah–Lebanon.
Sementara itu, berdasarkan sejumlah informasi yang beredar, masyarakat Suriah menghadapi kondisi ekonomi dan keamanan yang sulit sejak pemerintahan al-Jolani berkuasa. Situasi tersebut berlangsung di tengah pendudukan Israel dan sikap diam pemerintah yang berkuasa di Damaskus.
Dalam kondisi tersebut, sejumlah pemuda Suriah mulai bergerak dan mengumumkan pembentukan kelompok yang menamakan diri Gerakan Perlawanan Pemuda Suriah.
Pada 2024, pemimpin Revolusi Islam yang kemudian gugur syahid pernah mengatakan:
“Amerika berusaha memperkuat pijakannya di kawasan. Itulah tujuan mereka. Namun, waktu akan membuktikan bahwa dengan izin Allah, mereka tidak akan berhasil mencapai satu pun tujuan tersebut. Wilayah Suriah yang diduduki akan dibebaskan oleh para pemuda Suriah yang pemberani. Jangan ragu, hal itu akan terjadi. Pijakan Amerika juga tidak akan kokoh dan, dengan pertolongan Allah, Amerika akan diusir dari kawasan oleh Front Perlawanan.”
Terkait kondisi tersebut, wartawan ABNA mewawancarai sejumlah perempuan terpelajar asal Suriah. Nama mereka disamarkan dengan alasan keamanan.
Kondisi Komunitas Syiah di Suriah
ABNA: Bagaimana kondisi komunitas Syiah dan situasi politik saat ini di Suriah?
Bint al-Zahra, aktivis kebudayaan dan Al-Qur’an: Komunitas Syiah merupakan kelompok minoritas kecil dibandingkan penganut mazhab lainnya di Suriah. Persoalan yang dihadapi komunitas Syiah, terutama sejak perang pecah pada 2011, berkaitan dengan dukungan Iran dalam membela masyarakat yang tidak bersalah dari serangan ISIS.
Perang serta percampuran berbagai kepentingan politik dan agama kemudian menimbulkan ketegangan sektarian yang cukup besar.
Banyak desa yang dihuni komunitas Syiah berada di kawasan konflik atau mengalami pengepungan karena hubungan tersebut. Setelah berlangsungnya perang panjang dan jatuhnya pemerintahan sebelumnya, Suriah kini berada di bawah pemerintahan transisi baru yang berafiliasi dengan al-Jolani.
Ketegangan masih terjadi antara pemerintahan baru dan sejumlah wilayah yang dihuni komunitas Syiah di beberapa provinsi.
Di wilayah seperti Homs dan al-Mazra’ah, serta beberapa kota besar lainnya, terdapat stabilitas relatif. Meski demikian, kasus penculikan dan pembunuhan belum sepenuhnya berhenti.
Adapun Kafriya dan al-Fu’ah, kedua kota tersebut mengalami pengepungan ketat sejak sekitar 2015. Pada 2017, penduduknya meninggalkan wilayah itu melalui sebuah kesepakatan evakuasi besar-besaran.
Penduduk kedua kota tersebut kini mengungsi di berbagai wilayah Suriah, khususnya Damaskus dan daerah sekitarnya. Sementara itu, wilayah asal mereka berada di kawasan yang sebelumnya dikuasai kelompok oposisi.
Hingga kini, kepulangan penduduk masih menghadapi berbagai hambatan dan terus tertunda. Persoalan keamanan, keberadaan berbagai kelompok bersenjata dan petempur asing di sekitar Idlib, serta konflik politik lainnya masih belum terselesaikan.
Ummu Fatimah, tokoh perempuan Suriah: Belakangan ini, kondisi kehidupan masyarakat Syiah di Kota Homs tidak baik. Salah satu lingkungan dikosongkan agar rumah-rumah di sana dapat dihancurkan, dan penduduknya dipaksa meninggalkan rumah mereka.
Secara umum, komunitas Syiah di Suriah, baik di ibu kota maupun di berbagai provinsi, berada dalam kondisi yang tidak baik dan selalu diliputi kekhawatiran mengenai masa depan.
Dampak Gugurnya Pemimpin Revolusi dan Perang terhadap Iran
ABNA: Bagaimana respons masyarakat Arab, pendukung perlawanan, dan masyarakat Suriah terhadap gugurnya Pemimpin Revolusi serta perang terbaru Amerika Serikat terhadap Iran?
Bint al-Zahra: Kehilangan seorang pemimpin besar seperti Ayatullah Syahid Sayid Ali Khamenei, yang selama hidupnya menjadi simbol dukungan terhadap perlawanan, tentu menimbulkan kesedihan, penderitaan, dan rasa kehilangan yang sangat besar.
Kami juga merasakan ketidakamanan karena dalam arti yang sebenarnya, beliau merupakan sosok ayah bagi kami.
Sebagian orang mungkin mengira Iran dan gerakan perlawanan telah berada di ambang kehancuran karena keberadaan beliau selama ini menjadi simbol keteguhan dan dukungan. Namun, mereka keliru.
Meskipun diliputi kesedihan, kami akan tetap melanjutkan jalan ini dan terus berjuang. Kesyahidan beliau tidak melemahkan iman kami, tetapi justru memperkuat komitmen kami terhadap jalan perlawanan.
Kami memiliki keyakinan kuat bahwa kemenangan akan diraih melalui darah suci para syuhada. Gerakan perlawanan tidak bergantung kepada satu orang. Sebaliknya, kesyahidan tersebut justru memberikan motivasi yang lebih besar untuk berjuang dan berkorban.
Mengenai dampaknya di Suriah, setelah jatuhnya pemerintahan Bashar al-Assad, pemerintah saat ini menjauh dari Poros Perlawanan, terutama karena al-Jolani menentang Republik Islam Iran.
Namun, para pejuang perlawanan tetap teguh di jalan ini dan tidak akan menyimpang. Kami akan terus melanjutkannya.
Ummu Fatimah: Kesyahidan Pemimpin Revolusi menjadi pukulan yang sangat berat bagi masyarakat pendukung perlawanan. Hingga hari ini, banyak orang masih tidak percaya bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi.
Keinginan seluruh masyarakat merdeka di dunia adalah menuntut pembalasan atas darah pemimpin kami yang gugur syahid. Hal itu juga menjadi tuntutan komunitas Syiah di Suriah.
Zainab Salem, perempuan Suriah: Berita mengenai gugurnya Pemimpin Tertinggi Revolusi bukanlah berita biasa, melainkan sebuah guncangan besar yang meninggalkan dampak mendalam.
Aksi-aksi yang mengecam peristiwa tersebut bahkan digelar di sejumlah negara Teluk, meskipun masyarakat di sana menghadapi tekanan dan intimidasi karena menunjukkan dukungan kepada Republik Islam Iran.
Masyarakat Arab Mulai Menyadari Bahaya Proyek Amerika
Mengenai Suriah, masyarakat sangat sulit menunjukkan kesedihan atau kemarahan secara terbuka akibat tekanan dan teror yang dilakukan otoritas Damaskus terhadap para pendukung Poros Perlawanan.
Namun, hal yang penting adalah masyarakat Arab mulai menyadari bahaya proyek Amerika serta peran pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.
Mereka juga menghargai sikap Republik Islam Iran dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina dan Lebanon, sementara para penguasa Arab meninggalkan masyarakat Gaza yang tertindas.
Prediksi tentang Pembebasan Suriah
ABNA: Pemimpin Revolusi yang gugur syahid pernah menyampaikan harapan bahwa Suriah akan dibebaskan oleh para pemudanya. Tanda-tanda apa yang terlihat di lapangan bahwa prediksi tersebut akan terwujud?
Bint al-Zahra: Menurut saya, akan datang suatu hari ketika seluruh perkataan pemimpin kami mengenai pembebasan Suriah terwujud.
Buktinya dapat ditemukan dalam perkataan Sayidah Zainab (s.a.) kepada Yazid: “Demi Allah, engkau tidak akan pernah mampu menghapus ingatan tentang kami.”
Perkataan itu terbukti benar. Kenangan dan jalan perjuangan mereka tetap hidup hingga kini.
Di Suriah masih terdapat para pemuda pemberani dan pejuang perlawanan yang tetap teguh di jalan perlawanan dan kesyahidan.
Insyaallah, keadaan yang tepat akan tercipta sehingga mereka dapat bangkit, melanjutkan perjuangan, dan meraih kemenangan.
Allah Swt. berfirman bahwa Dia pasti akan menolong orang-orang yang menolong agama-Nya. Kemenangan akan datang meskipun membutuhkan waktu.
Ummu Fatimah: Harapan pemimpin yang gugur syahid mengenai masa depan Suriah pasti akan terwujud. Saat ini, aksi protes telah muncul di sejumlah wilayah Suriah sebagai bentuk penolakan terhadap buruknya kondisi keamanan dan kehidupan masyarakat.
Zainab Salem: Meskipun menghadapi berbagai tekanan dari pemerintahan di Suriah, para pemuda Suriah masih meyakini dengan tegas bahwa Israel adalah musuh.
Sejumlah gerakan juga mulai mengumumkan keberadaan mereka untuk menentang dukungan pemerintah Suriah saat ini terhadap proyek ekspansi Israel di wilayah selatan Suriah.
Faktor Penyebab Krisis Suriah Sejak 2011
ABNA: Apa saja faktor politik dan propaganda yang menyebabkan krisis Suriah sejak 2011 berkembang menjadi konflik besar?
Bint al-Zahra: Peristiwa 2011 bermula dari aksi protes dalam negeri terhadap kondisi ekonomi dan politik. Namun, akibat campur tangan pihak asing serta dukungan regional dan internasional terhadap sejumlah kelompok oposisi, situasi tersebut dengan cepat berubah menjadi konflik bersenjata.
Tujuannya adalah mengubah posisi Suriah di kawasan dan melemahkannya sebagai bagian dari Poros Perlawanan.
Media yang berafiliasi dengan blok Barat dan sejumlah negara Arab juga berperan dalam memperdalam perpecahan dan mempolitisasi berbagai peristiwa.
Akibatnya, krisis yang semula merupakan persoalan dalam negeri berubah menjadi konflik regional berskala besar yang berlangsung di wilayah Suriah.
Mayoritas masyarakat Suriah merupakan Muslim Sunni, sedangkan pemerintahan sebelumnya didominasi kelompok Alawi serta mendapat dukungan dari Iran dan Hizbullah.
Kondisi Pengungsi Suriah di Lebanon
ABNA: Setelah pemerintahan al-Jolani berkuasa, banyak warga Suriah mengungsi ke Lebanon demi menyelamatkan diri. Apa yang Anda ketahui mengenai kondisi mereka?
Bint al-Zahra: Sekitar satu hingga satu setengah juta pengungsi Suriah berada di Lebanon setelah perang. Krisis ekonomi dan perang di Lebanon memberikan tekanan besar kepada para pengungsi, sekaligus kepada gerakan perlawanan dan Hizbullah.
Pemerintah Lebanon mulai memperketat aturan serta prosedur hukum mengenai izin tinggal dan pekerjaan. Persyaratan izin tinggal bagi sejumlah kelompok juga diperketat.
Pemerintah turut menggelar operasi untuk menertibkan para pekerja yang tidak memiliki dokumen resmi.
Setelah jatuhnya pemerintahan sebelumnya, pemulangan sebagian pengungsi ke Suriah mulai dilakukan melalui kelompok-kelompok yang terorganisasi. Namun, banyak warga Syiah Suriah justru masuk ke Lebanon.
Saya sendiri pernah pergi ke Lebanon. Namun, akibat perlakuan buruk dari tentara Lebanon, yang menjadi salah satu pengalaman paling buruk dan sulit dalam hidup saya, saya akhirnya pergi ke Iran.
Ummu Fatimah: Sebagian pengungsi terpaksa tinggal di Lebanon selama beberapa bulan. Perlakuan buruk terhadap mereka umumnya terjadi secara terbuka dan sangat mengkhawatirkan.
Kondisi pengungsi Suriah di Lebanon sangat sulit, sementara bantuan yang tersedia sangat terbatas.
Para pengungsi tidak hidup dalam kondisi yang baik. Sebagian besar dari mereka akhirnya terpaksa kembali ke Suriah.
Komentar Anda